Makam Raja-Raja Imogiri

Candi & Situs Sejarah DI Yogyakarta Tutup 13:00

Kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam di perbukitan Imogiri sejak 1632 — 498 anak tangga menuju situs sakral yang masih aktif jadi tempat pemakaman raja.

498 Anak Tangga

Konon jika berhasil menghitung jumlah tangga dengan benar, keinginan pengunjung akan terkabul — mitos populer di kalangan peziarah.

Delapan Kedhaton

Kompleks terbagi menjadi delapan astana/kedhaton, termasuk Kedhaton Sultan Agungan berisi makam Sultan Agung dan Amangkurat I.

Padasan Pusaka

Empat gentong besar air suci hadiah dari kerajaan sahabat (Turki, Syam), dicuci dan diisi ulang setahun sekali pada bulan Suro.

Video

Sejarah

Dibangun sejak 1632 atas prakarsa Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram Islam, dirancang arsitek Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo. Sultan Agung wafat 13 tahun kemudian dan menjadi orang pertama yang dimakamkan di sini.

Makam Raja-Raja Imogiri, juga dikenal sebagai Pajimatan Girirejo, dibangun atas prakarsa Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram Islam, sejak tahun 1632. Menurut legenda, lokasi ini dipilih setelah Sultan Agung melempar segenggam pasir dari Arab yang jatuh di perbukitan Imogiri. Nama Imogiri sendiri berasal dari kata ‘Hima’ (kabut) dan ‘Giri’ (gunung), merujuk kabut yang kerap menyelimuti perbukitan ini di pagi hari.

Setelah Perjanjian Giyanti memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kompleks makam ini tetap menjadi tempat pemakaman bersama kedua trah kerajaan hingga sekarang, terbagi menjadi delapan kedhaton/astana. Pengunjung yang ingin masuk area inti makam wajib mengenakan busana adat Jawa (pranakan untuk pria, semekan untuk wanita) yang tersedia untuk disewa, dan hanya bisa berkunjung pada hari serta jam tertentu.

Daya Tarik

Kompleks makam di puncak Bukit Merak dengan panorama Pegunungan Sewu, empat gapura bergaya akulturasi Hindu-Islam, serta suasana sakral yang kental dengan tradisi ziarah Jawa.

Keunikan

Satu-satunya kompleks makam di Indonesia yang masih menjadi tempat pemakaman aktif bagi dua trah kerajaan sekaligus — Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta — hingga era modern.

 

Lokasi & Akses

📍 Bantul ⛰️ 85 mdpl 🚗 35-45 menit dari pusat Kota Yogyakarta

Dusun Pajimatan, Kalurahan Girirejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

📍 Buka di Google Maps ↗

Cara Menuju Lokasi

Mobil Pribadi
Dari Terminal Giwangan, ke selatan via Jl. Imogiri Timur sekitar 30 menit hingga pertigaan Kecamatan Imogiri, lalu belok kiri mengikuti papan petunjuk parkir.

Jam Operasional & Tiket

Estimasi Durasi Kunjungan

⏱️ 1,5-2 jam Sepanjang Tahun
HariJam BukaJam Tutup
Sabtu Tutup
Minggu 10:00 13:00
Senin 10:00 13:00
Selasa Hari ini Tutup
Rabu Tutup
Kamis Tutup
Jumat 13:30 16:00
KategoriHarga
Tiket masuk (sukarela/kotak infak) Gratis
Sewa busana adat Rp10.000
Parkir Motor Rp2.000
Parkir Mobil Rp5.000

Biaya Tambahan

  • Jasa ojek turun tangga (opsional) — Rp0

Fasilitas & Aktivitas

Fasilitas

Area ParkirMushola / Tempat Ibadahpemandu-lokalpendopo-jogloToilet

Aktivitas

edukasi-budayaWisata Kuliner Lokal
Solo TravelerRombongan/Grup 🧒 Ramah Anak

🏛️ Cagar Budaya & Sejarah

Tahun Dibangun
Dimulai sekitar tahun 1632–1640 M
Era / Periode
Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Status Cagar Budaya
Cagar Budaya Nasional

Kontak

Pengelola: Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta dengan juru kunci (abdi dalem)

Tips Berkunjung

  • Makam hanya buka Senin, Jumat, dan Minggu dengan jam terbatas — cek jadwal terlebih dulu sebelum datang, apalagi saat Ramadhan tempat ini tutup total.
  • Siapkan fisik yang cukup fit karena harus menaiki ratusan anak tangga menuju kompleks makam.
  • Wajib kenakan busana adat Jawa yang disediakan pengelola saat memasuki area makam inti.
  • Niatkan kunjungan untuk ziarah dan belajar sejarah, bukan meminta hal-hal yang bersifat duniawi/musyrik.
⚠️
Aturan/Larangan:
  • Memasuki makam utama tanpa pakaian adat
  • Mengenakan alas kaki di area makam inti
  • Mengenakan pakaian yang tidak sopan
  • Mengambil foto atau video di area makam inti
  • Berisik atau berbicara keras
  • Menyentuh atau memindahkan benda pusaka
  • Membuang sampah sembarangan
  • Merokok di area makam
  • Makan dan minum di area makam inti
  • Bertindak tidak sopan
  • Membawa hewan peliharaan ke area makam
  • Melakukan vandalisme

FAQ

Apakah makam ini buka setiap hari?

Tidak, hanya buka hari Senin, Jumat, dan Minggu dengan jam terbatas, serta tutup penuh selama bulan Ramadhan.

Apakah ada biaya masuk resmi?

Tidak ada tarif resmi/tetap — pengunjung mengisi kotak infak seikhlasnya, namun ada biaya sewa busana adat sekitar Rp10.000 untuk masuk area makam inti.

Informasi Tiket

Saat ini jelajahnegeri.com belum melayani pembelian tiket online. Harga yang tercantum di atas hanya bersifat informasi.

Kontak admin belum tersedia untuk destinasi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *